Pentingnya Teknik Bersikap Saat Presentasi

Posisi Berdiri yang Benar Dalam Presentasi

Bagi seorang pesenam posisi berdiri sangatlah menentukan prestasi. Setiap gerakan sangatlah detail dan penting, sehingga posisi kaki yang benar akan mempengaruhi posisi berdiri, dan berpengaruh pada penampilan secara keseluruhan. Kaki yang diletakkan dengan mantap pada setiap langkah juga mempengaruhi pembawaan seorang atlet senam. Pendek kata, kaki adalah salah satu dari sekian gerakan tubuh yang memiliki pengaruh dasar dalam penampilan seseorang.

Saya tidak menjamin dapat memberitahukan gerakan kaki untuk tampil sebagai pesenam yang bagus. Tapi saya mempraktekkan sendiri dan mendapatkan hasilnya, manfaat dari posisi kaki yang baik dalam presentasi. Presenter dan pembicara adalah profesi yang berbeda jauh dengan pesenam, tapi mereka memiliki beberapa kesamaan. Uniknya beberapa kesamaan ini adalah dasar dari penampilan masing-masing profesi tersebut. Presenter, pembicara dan pesenam sama-sama harus tampil berdiri dan bergerak di panggung. Posisi kaki yang benar sama pentingnya dalam menunjang penampilan yang prima.


Secara psikologis, posisi kaki ketika berdiri berpengaruh langsung pada kondisi psikologis seseorang. Posisi kaki terbuka seperti huruf “V” yang terbuka, cenderung membuat kita lebih terbuka dalam komunikasi. Sebaliknya posisi kaki seperti huruf v yang tertutup “Λ” membuat seseorang kikuk dan terlihat kurang percaya diri dalam berkomunikasi. Sadari selalu sehingga anda menjadi terbiasa untuk berdiri dengan posisi kaki yang terbuka saat presentasi. Kesadaran akan manfaat dari pengaturan posisi dan keinginan untuk menjadi lebih baik, akan otomatis menjadi alarm pengingat dimana pun anda sedang melakukan presentasi. Pada situasi ini, diri anda akan tiba-tiba menyadari untuk selalu menjaga posisi kaki terbuka. Kesadaran otomatis tersebut juga akan terjadi pada jenis bahasa tubuh yang lain.

Posisi salah satu kaki yang bergoyang-goyang atau bergerak-gerak mengetuk lantai sangat mengganggu perhatian audiens. Beberapa orang melakukan ini untuk mengalihkan ketakutan mereka. Bergeraklah melangkah ke kiri atau ke kanan sesekali untuk melepas kekakuan. Pergerakan haruslah dikondisikan sedemikian rupa agar selaras dengan perkataan. Misalnya anda bergerak saat pergantian topic, saat pembahasan yang lebih mendetail, bicara lebih perlahan, atau merubah nada bicara. Hindari terlalu banyak pergerakan selama presentasi, selain membuat audiens cepat lelah, konsentrasi juga bisa terganggu.

Posisi kedua kaki yang terlalu dekat akan membuat badan kita kurang seimbang, dan berpengaruh terhadap kondisi psikologis kita. Posisi telapak kaki yang terlalu dekat akan membatasi diri untuk berkomunikasi dengan orang lain. Kaki yang berdekatan juga akan membuat seseorang menjadi kikuk atau kurang percaya diri.

Posisi kaki yang terlalu berjauhan akan membuat pembicara terlihat kaku dan kurang bersahabat. Berdirilah dengan jarak kedua kaki yang pas, kira-kira tepat dibawah bahu. Kaki kiri dibawah bahu kiri dan demikian halnya dengan kaki kanan.


Posisi Tangan Menentukan Hasil

Jika kita amat-amati, pada umumnya saat gugup orang cenderung tidak dapat mengontrol gerakan tangannya. Seringkali orang lain yang memberitahu kita bahwa posisi atau letak tangan kita kurang baik. Misalnya masuk kantong, memain-mainkan pulpen, sering kali memainkan jari dan lain-lainnya.

Gerakan-gerakan seperti ini, memang dipengaruhi oleh apa yang ada dalam pikiran seseorang, apakah itu ketakutan, kekhawatiran, kebingungan dan bermacam-macam lainnya. Walaupun hambatan dalam pikiran seseorang terselesaikan dengan baik, namun penguasaan bahasa tubuh tetap harus dimiliki. Tanpa memiliki informasi yang benar mengenai ilmu bahasa tubuh dalam komunikasi, maka presentasi menjadi kurang maksimal.


Berikut adalah bahasa tubuh yang harus kita perhatikan, khususnya mengenai posisi tangan pada saat presentasi :
  1. Bila tangan terangkat atau bergerak pada area diatas pinggang, maka mengindikasikan bahwa presenter lebih komunikatif.
  2. Boleh saja sejenak menyandarkan tangan di ikat pinggang, kantong. Ini perlu dilakukan agar tangan anda tidak pegal.
  3. Gerakan tangan dengan lebih jelas dan terarah untuk memperkuat maksud. Hindari gerakan yang sekedar sebagai pelengkap dan terkesan malas.
  4. Hindari gerakan tangan yang seperti bergerak-gerak kesana kemari tanpa maksud yang jelas. Termasuk juga gerakan telapak tangan yang saling mengusap-usap hingga memainkan jari-jari anda.
  5. Salah satu posisi yang dapat menimbulkan kesan berwibawa adalah mempertemukan kedua telapak tangan dalam posisi tertutup. Telapak tangan kiri terbuka keatas, dan telapak tangan kanan menutup ke bawah dengan arah yang bersilangan.


Meningkatkan Pengaruh Kontak Mata dalam Presentasi

Ungkapan yang sangat popular mengatakan bahwa mata adalah jendela jiwa. Jiwa adalah pikiran sadar dan bawah sadar kita. Suasana hati manusia merupakan cerminan dari pemikirannya. Jadi pandangan mata seseorang membawa pesan tentang apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Pandangan mata termasuk bagian dalam bahasa tubuh, dan ini adalah faktor visual dalam komunikasi. Faktor visual ini memiliki kekuatan paling besar dibandingkan dengan suara dan konten bicara. Jadi sangat penting bagi seseorang yang melakukan presentasi, agar memiliki pandangan mata yang benar.

Orang yang tidak jujur atau kurang memperhatikan, akan cenderung menghindari kontak mata. Dalam presentasi, pertahankan kontak mata dengan audiens. Menjaga kontak mata dengan audiens, juga memberikan pesan terselubung atau isyarat ke pikiran bawah sadar audiens bahwa anda masih memperhatikan mereka. Akibatnya audiens akan merasa bahwa presenter atau pembicara berpihak pada mereka.

Menatap mata salah satu audiens ketika berbicara, akan menyampaikan pesan bahwa kita juga memperhatikan yang lain. Carilah beberapa orang yang memiliki raut wajah nyaman atau menyenangkan untuk dipandang. Hindarilah hanya melakukan kontak mata dengan 1 atau 2 orang saja selama melakukan presentasi di depan banyak orang. Dan tatapan dengan porsi yang tepat sebaiknya tidak lebih dari 6 detik. Bila menatap mata salah satu audiens lebih dari 10 detik saja, dapat diartikan oleh audiens yang lain bahwa pembicara hanya peduli pada 1 orang.

Sekalipun sedang menjawab pertanyaan seseorang, tetaplah jaga agar tidak menatap mata si penanya lebih dari 6 detik. Saat menjawab kita hanya perlu sesekali menatap mata penanya, dan bukan sepanjang kita memberi jawaban. Perlu anda ketahui bahwa awaban dari pertanyaan seorang audiens juga ingin didengar oleh yang lain.

Emosi yang menguasai hati saat kita bicara, akan tersampaikan pada audiens yang kita tatap matanya. Ketika hal itu tersampaikan ke 1 orang, maka audiens yang lain juga akan merasakannya. Oleh karena itu ketika seorang presenter atau pembicara ingin menyampaikan kesan yang mendalam, tataplah mata salah satu audiens ketika kata-kata dan hati anda seirama. Penguasaan materi, intonasi yang baik tidaklah cukup berpengaruh bagi audiens, anda perlu menambahkan tatapan mata dalam setiap kalimat yang mengesankan


Comments